Detik-Detik Yang Menetukan

crossDetik-detik yang menentukan, tentu anda akrab dengan kalimat ini. Iya ini adalah judul buku sejarah yang ditulis oleh Prof. BJ Habibie (mantan Presiden RI itu lho). Ternyata detik-detik yang menentukan saat ini tengah melanda hidup dan kehidupan saya.

Hampir-hampir mirip dengan isi kisah detik-detik saat pengalihan kekuasaan kala periode Reformasi dulu dimana Pak Habibie dihadapkan pada pilihan untuk menerima atau tidak jabatan Presiden dari (Alm) Suharto. Saya juga tengah dihadapkan pada satu pilihan untuk take it or leave it, tentu dengan skala yang jauh-jauh lebih kecil (ya iyalah, scara siapa saya). Sepuluh hari kedepan akan menjadi sangat bera bagi saya. Bukan, bukan untuk menghadapi hari-hari puasa tapi hari-hari untuk mengambil atau tidak kelanjutan perjalanan pencarian nafkah. -duh bahasanya kok susah-

Saat ini saya harus memilih untuk terus melanjutkan bekerja sebagai seorang profesional atau harus retire untuk mengambil tantangan di dunia lain, blogosphere. Selalu sulit memang diawalnya, dunia pekerjaan yang sudah saya geluti hampir delapan tahun terakhir apakah harus berakhir disini. Disiplin ilmu yang telah bertahun dipelajari tentunya akan sangat sayang untuk begitu saja diabaikan dan ditinggalkan. Kenangan demi kenangan di salah satu sisi paling dicari karena dianggap bergengsi ini pasti banyak dan susah dibuang. Perjuangan dari awal mengenal uang tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Kembali, sesalu sulit diawalnya.

Disisi lain, saya juga haru fokus untuk bisa meraih sesuatu yang lebih saya anggap baik. Sesuatu yang sepertinya memberi kebebasan berekpresi dan keleluasaan mengatur waktu. Perjuangan selama hampir dua tahun dalam blogging sepertinya juga terlalu sayang untuk digarap sebelah tangan eh sebelah mata.

Jika suatu pilihan dihadapkan pada anda, ambil salah satu dari dua jalan dimana salah satu darinya telah anda lalui dan merasakan jalan itu tidak begitu terjal dan juga tidak begitu halus untuk dilalui, sementara satu jalan yang lain baru setapak anda jejaki, terasa halus dan sepertinya juga tak terjal. Yang mana yang akan anda pilih?

Beruntung, guru2 dan rekan blogger selalu mensupport saya. Apapun yang akan saya ambil, keputusan ada ditangan saya termasuk resiko2nya. Terima kasih mas Brokencode atas supportnya.

Apapun bisa terjadi dalam sepuluh hari kedepan. Kalau tidak ada apa-apa ya kita tunggu sepuluh hari lagi hehehe…
Yang pasti, tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok apalagi masa depan karena itu adalah rahasia-Nya serta selalu sulit diawalnya.

Mohon bantuan doa semoga saya diberi petunjuk untuk dapat memilih jalan yang terbaik.

  • No Related Post

16 Comments

  • By Dewa Zildjian, August 22, 2009 @ 5:53 pm

    Kalau saya berada pada kondisi diatas saya akan memilih tetap menjalankan rutinitas kerja saya selama ini dengan tidak meninggalkan apa yang sudah saya dapat selama berkecimpung di dunia bloghospere kecuali jika penghasilan saya dari online earning sudah konstan setiap bulan gajian no problem untuk resign kerja, tapi pilihan tetap ada ditangan anda, pilihlah yang terbaik. saran saya sih sholat istikhoroh aja.

  • By syaifudin zuhri, August 23, 2009 @ 2:18 pm

    keputusan harus di ambil, “segala sesuatu ada masa dan waktunya”, barangkali ini waktu untuk mas edy ambil… segala seuatu tidak akan pernah sia sia.

  • By Edhi, August 25, 2009 @ 1:36 pm

    @ Dewa : Trims masukkannya mas, iya ini saya lagi istikharoh moga diberi jalan terbaik.

    @ Syaifuddin :Iya semoga ini waktu saya untuk bisa ‘lepas’ dari rutinitas untuk bisa lebih bebas berepresi dan bebas mengatur waktu. Amin, tolong dukung terus ya mas. ajarin ilmu2nya.

  • By Brokencode, August 26, 2009 @ 6:20 pm

    segala keputusan harus diambil dengan bijak dan matang dalam pertimbangan. semoga keputusan yang akan diambil bukan atas azas spekulasi atau gambling, tapi keputusan yang akan jadi trigger untuk lebih sukses kedepan.

  • By Edhi, August 27, 2009 @ 1:25 am

    Waw…Juragane Datang
    Trims mas saran2nya. Ini lagi merenung dan menimbang2 segala kebaikan dan resiko yang mungkin terjadi dari keputusan yang bakal saya ambil.
    Semoga diberi petunjuk untuk mengambil keputusan yang terbaik bukan sekedar spekulasi yang didorong emosi.

  • By Sumintar, August 27, 2009 @ 10:40 am

    Semoga pasti ada resiko, makin besar resiko makin tentu butuh tenaga dan pikiran yang mantap juga. Kalau berhasil dan tentu akan berhasil kalau sungguh sungguh, jutru menjadi titik yang menentukan arah berikutnya.

  • By Sumintar, August 27, 2009 @ 10:41 am

    Maaf yang benar Semua keputusan pasti ada resiko.

  • By Edhi, August 27, 2009 @ 1:57 pm

    Pakde, matur nuwun sudah berkenan mampir ke blog acak-acakan saya.
    Semakin besar resiko semakin butuh pemikiran yang mantap, betul sekali pakde. Karena saya pikir resiko saat ini sungguh besar pertaruhannya karena menyertakan tidak hanya perut saya tapi masih ada dua perut lain.
    Terima kasih supportnya pakde.
    - Masih merenung dan berharap petunjuk-Nya -

  • By neilhoja, September 2, 2009 @ 5:41 am

    hidup adalah pilihan…

    dan memilih adalah menerima resiko. :D

  • By Zalukhu Info, September 9, 2009 @ 7:55 pm

    Tadinya saya agak kaget baca post ini, tp setelah mas Edhy jelasin sebab muasalnya akhirnya saya ngerti dan memang keluarga harus jadi yang utama. Harapan saya sih apapun yang diputusin ntar, hendaknya memang benar2 bisa menjamin masa depan yang akan mas pilih. Menjadi Full Time Blogger gampang2 susah, namun bukan berarti ga bisa sukses. I’ll support u mas…

  • By Nico, September 12, 2009 @ 10:52 pm

    Lebih baik mengambil keputusan daripada tidak pernah mengambil keputusan sama sekali…tidak akan ada yang salah dalam pengambilan keputusan, karena itulah proses belajar menuju kesuksesan. Esok hari kita akan menerima apa yang kita lakukan hari ini, tidak ada yang sia-sia, semoga sukses selalu.

  • By Edhi, September 13, 2009 @ 7:15 pm

    @ Bang zal: Trims supportnya mas. Amin, iya semoga Alloh memberi petunjuk agar keputusan saya nanti merupakan yang terbaik. Bisa mengantar kepada kesuksesan. Ditunggu bimbingannya bang.

    @ Nico : Siap, Alhamdulillah keputusan sudah saya ambil mas dokter. Full time blogger lah yang saya pilih.
    Mari belajar bersama. Eh…kalau sakit kanker apa obatnya pak dokter? cek dari adsense kali bisa nyembuhin hhheee….. Sukses juga mas

  • By deni, September 14, 2009 @ 1:09 pm

    Sama mas… Kerja aku juga full time blogger.

    Full time blogger gak ada bedanya dengan kerja biasa. Cuma ruang lingkup kerja ada yang beda. Malah menurutku penghasilan fulltime blogger lebih WAH daripada kerja biasa.

    Alasanku sendiri memilih fulltime blogger seperti ini supaya aku bisa leluasa menjalankan kewajibanku sebagai muslim. dan alhamdulillah…. Aku bisa menjalankan semua tepat waktu dan di tempatnya.

    Sekarang tinggal pintar2 kita aja memanfaatkan kondisi fulltime blogger kita.

    Masalah rezeki mah gak usah khawatir. Rezeki sama seperti mati. Pasti dateng walau tidak diharapkan. Tinggal cara menjemputnya aja.

    Salam kenal.

  • By wawan, September 18, 2009 @ 7:15 am

    Mantab bos Edi, dari dulu ente emang paling oye dah … :D

    doaku menyertaimu …

  • By hardimORG, October 13, 2009 @ 9:30 am

    menanti kisah suksesnya mas edhi nanti. semoga… semoga…

  • By Andi, February 2, 2010 @ 11:10 am

    “Maju terus pak”…hidup, mati, jodoh & rezeqi milik Allah SWT kta sbg manusia hnya & hrs mampu mnjalaninya, tdk mngkin Allah akn mnurunkn kesulitan pd kta selain kta sndiri yg mmbuat sulit suatu perkara…

Other Links to this Post

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Powered by WordPresss - Coffee Press